SELOPANGGUNG – Tabir gelap yang menyelimuti kematian tragis Tan Malaka (Ibrahim Gelar Datuk Sutan Malaka), sang revolusioner legendaris yang sempat terlupakan, kini berada di ambang pembuktian ilmiah.
Sebuah tim gabungan yang terdiri dari sejarawan lintas negara, ahli forensik, dan ahli waris tengah berpacu dengan waktu untuk membedah kode genetik dari fragmen tulang yang ditemukan di sebuah desa terpencil di Jawa Timur tiga tahun lalu.
Misi Mustahil di Laboratorium Australia
Bukan perkara mudah untuk mengungkap identitas jenazah yang sudah menyatu dengan tanah selama lebih dari enam dekade.
Dr. Djaja Atmaja, sang maestro forensik yang memimpin investigasi, mengungkapkan bahwa timnya harus terbang ke Australia untuk melakukan analisis Low Copy Number (LCN).
Teknologi tingkat tinggi ini fokus pada Y-Short Tandem Repeats (Y-STR)—sebuah jejak DNA inti yang diwariskan secara garis laki-laki kepada keturunan perempuannya.
Tantangannya luar biasa: mereka hanya memiliki "harta karun" berupa 1,1 gram fragmen tulang dan 0,25 gram gigi yang kondisinya sudah terkontaminasi parah akibat terendam air di cekungan sungai selama puluhan tahun.
Mengapa Sang Pemikir Besar Harus Dieksekusi?
Di balik misteri DNA-nya, tersimpan kisah tragis tentang pengkhianatan dan perbedaan ideologi yang tajam.
Tan Malaka bukan dihukum mati oleh penjajah, melainkan oleh peluru bangsanya sendiri di tengah kemelut revolusi.
Terdapat beberapa alasan utama di balik hukuman mati tersebut:
* Oposisi Keras terhadap Diplomasi:
Tan Malaka adalah pemimpin "Persatuan Perjuangan" yang menolak mentah-mentah jalur diplomasi dengan Belanda.
Baginya, kemerdekaan harus diraih 100%, tanpa kompromi.
Sikap radikal ini membuatnya berbenturan keras dengan kebijakan pemerintah Sjahrir dan Hatta yang saat itu memilih jalan perundingan.
* Tuduhan Percobaan Kudeta:
Ketegangan politik memuncak pada peristiwa 3 Juli 1946. Tan Malaka dituduh berada di balik upaya penculikan Perdana Menteri Sjahrir dan upaya penggulingan pemerintah.
Meskipun tuduhan ini masih menjadi perdebatan sejarah, hal ini membuatnya dianggap sebagai ancaman stabilitas negara yang baru seumur jagung.
* Konflik di Garis Depan Revolusi:
Pada awal 1949, saat pemimpin RI (Soekarno-Hatta) ditawan Belanda dalam Agresi Militer II, Tan Malaka mencoba menggalang kekuatan gerilya di Jawa Timur.
Namun, kehadirannya menciptakan dualisme kepemimpinan di lapangan. Ia dianggap memicu disintegrasi di kalangan militer yang sedang berjuang melawan Belanda.
* Perintah Eksekusi Tanpa Pengadilan:
Dalam situasi perang yang kacau, instruksi militer dikeluarkan untuk "mengamankan" tokoh-tokoh yang dianggap membahayakan kesatuan komando.
Pada 21 Februari 1949, Letnan Dua Soekotjo dari Batalyon Sikatan diperintahkan untuk mengeksekusi Tan Malaka di hutan Selopanggung, Kediri.
Ia ditembak mati tanpa pernah diberi kesempatan membela diri di meja hijau.
Saksi Bisu: Tangan yang Terikat di Belakang Punggung
Harry Poeze, sejarawan asal Belanda yang mendedikasikan separuh hidupnya untuk melacak jejak Tan Malaka, merasa sangat yakin bahwa makam di Selopanggung adalah tempat peristirahatan terakhir sang pejuang.
> "Penelitian saya, yang melibatkan serangkaian wawancara dengan saksi mata serta penduduk setempat di Selopanggung, meyakinkan saya bahwa itu adalah dia. Misalnya, jenazah tersebut kedua tangannya terikat di belakang tubuh. Tan Malaka ditembak mati dengan kedua tangannya terikat di belakang punggungnya. Kita harus menyelesaikan apa yang telah kita mulai, jadi kita harus melanjutkan penyelidikan DNA kita," tegas Poeze.
Pahlawan yang Terbuang dan Dilupakan Negara?
Meski Presiden Soekarno telah menjadikan Tan Malaka sebagai pahlawan nasional pada tahun 1963, dan pemerintah Orde Baru tidak pernah mencabut keputusan tersebut, upaya pencarian kebenaran ini rupanya harus berjalan tertatih-tatih tanpa dukungan pemerintah.
Harry Poeze mengatakan bahwa ia telah menulis surat kepada Kementerian Sosial pada tahun 2007 untuk meminta bantuan penggalian, namun kementerian menyatakan tidak memiliki dana untuk mendukung upaya tersebut.
Bagi keluarga, ini bukan sekadar urusan makam. Zulfikar, keponakan Tan Malaka yang DNA-nya digunakan sebagai pencocokan, menegaskan bahwa kepastian identitas ini adalah hak sejarah rakyat Indonesia.
"Tan Malaka bukan hanya milik keluarga kami. Beliau adalah milik bangsa ini karena beliau berjuang untuk negara ini," pungkasnya.
Kini, publik menanti hasil dari laboratorium di Australia.
Apakah sains akan berhasil menjawab misteri sejarah yang selama ini sengaja dikubur dalam-dalam?
Ia adalah otak di balik konsep "Republik Indonesia", namun ironisnya, ia harus meregang nyawa di tangan tentara republik yang ia impikan.
Eksekusi ini bukan hanya membunuh seorang pria, tapi mencoba mengubur gagasan paling merdeka yang pernah lahir dari rahim nusantara.
Ingatlah! Bahwa dari dalam kubur, suara Tan Malaka akan terdengar lebih keras daripada dari atas bumi. (Syam RS)


