JBN NEWS ■ JAKARTA — Lanskap pengawasan anggaran publik di Indonesia memasuki babak baru dengan pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (AI). Influencer sekaligus praktisi AI, Abil Sudarman, bersama tim Assai.id meluncurkan *Nemesis Assai, sebuah *dashboard early warning system yang dirancang khusus untuk melacak pengadaan barang dan jasa yang dianggap tidak wajar atau "anomali".
Platform ini menjadi perbincangan hangat setelah akun Instagram @Assai_id mengunggah beberapa temuan anggaran mencolok yang berhasil dideteksi oleh sistem mereka.
Beberapa di antaranya meliputi:
* *Kendaraan mewah Range Rover* senilai Rp 8,5 miliar untuk pemerintah provinsi.
* *Meja billiard* seharga Rp 400 juta.
* *Tanaman hias* dengan pagu anggaran mencapai Rp 1 miliar.
* *Akuarium* senilai Rp 100 juta dengan biaya pemeliharaan mencapai Rp 153 juta di area kerja pimpinan kementerian.
Cara Kerja Nemesis:
Mengubah Data Mentah Menjadi Label "Absurd"
Nemesis Assai bekerja dengan mengolah data dari Sistem Informasi Rencana Umum Pengadaan (SiRUP) milik LKPP.
Mengingat ada sekitar tiga juta baris paket pengadaan setiap tahunnya, mustahil bagi manusia untuk membedah semuanya secara manual.
Di sinilah peran Large Language Model (LLM) menjadi krusial.
Proses pengolahan data dilakukan melalui lima tahapan sistematis:
1. *Ekstraksi Data:* Menarik data dari endpoint publik SiRUP dan menyimpannya dalam basis data SQLite.
2. *Pembersihan Teks:* Melakukan filtrasi teks judul paket, menghapus duplikasi, dan menyelaraskan konteks instansi terkait.
3. *Analisis AI:* Menggunakan model bahasa tingkat lanjut (seperti GPT-5.4) untuk membaca judul paket dan memberikan label otomatis berdasarkan kewajarannya.
4. *Kategorisasi:* Menghitung total label merah per wilayah atau kementerian untuk melihat pola sebaran anomali.
5. *Verifikasi Manusia:* Auditor manusia melakukan pemeriksaan akhir pada paket-paket yang telah diprioritaskan oleh sistem.
Memanfaatkan Kekuatan Bahasa
Abil Sudarman menjelaskan bahwa keunggulan utama penggunaan AI dalam konteks ini adalah kemampuannya memahami konteks bahasa.
Meskipun data SiRUP sering kali tidak lengkap atau kategorinya salah, judul paket pengadaan biasanya tetap tersedia.
AI mampu mengenali apakah judul paket tersebut masuk akal jika disandingkan dengan nilai pagu yang diajukan.
Dalam sistem Nemesis, setiap pengadaan diberi label berdasarkan tingkat kewajarannya, mulai dari
*'Medium', *'High'*, hingga yang paling kontroversial, *'Absurd'**.
Hingga saat ini, pihak Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) belum memberikan tanggapan resmi terkait pemanfaatan data publik tersebut dalam dashboard mandiri yang dikembangkan oleh masyarakat ini.
Kehadiran Nemesis Assai diharapkan dapat mendorong transparansi dan menjadi alat bantu bagi publik maupun instansi terkait untuk lebih teliti dalam menyusun anggaran belanja negara. (Syam RS)
Backlink Mitra Banten Todays


