Philippe Micone Bangun Bisnis Minyak Jelantah di Bandung

JBN NEWS
Selasa, 28 April 2026 | 08:33 WIB Last Updated 2026-04-28T01:36:38Z

Berangkat dari pengalamannya bekerja di proyek energi di luar negeri, Philippe Micone tak menyangka langkahnya akan membawanya pada satu persoalan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia, yakni minyak jelantah. Pria asal Kanada tersebut melihat peluang besar dari pengelolaan limbah jelantah di tanah air.

Ide tersebut bermula sekitar lima tahun lalu saat Philippe terlibat dalam proyek bio-refinery di Australia. Meski proyeknya berbasis di sana, pengembangnya merupakan keluarga asal Indonesia. Hal tersebut membuat Philippe cukup lama berkegiatan di Jakarta dan mulai memahami kondisi lapangan Indonesia.

"Salah satu hal yang kami diskusikan adalah, apakah memungkinkan mengumpulkan minyak jelantah di Indonesia lalu mengirimkannya ke Australia untuk diproses menjadi Sustainable Aviation Fuel (SAF)," ujarnya ketika ditemui detikJabar di Moxy Hotel Bandung belum ini.

Rasa penasaran itu mendorongnya turun langsung menelusuri rantai distribusi minyak jelantah di Indonesia, mulai dari masyarakat hingga pengepul. Namun, temuan di lapangan justru memunculkan kegelisahan.

"Ada satu hal yang membuat saya kesal. Mereka (pengepul) membeli minyak jelantah dari masyarakat seharga Rp1.000-Rp2.000. Lalu menjualnya kembali hingga Rp10.000. Menurut saya itu tidak adil," kata dia.

Ia menilai, praktik tersebut memperlihatkan adanya ketimpangan yang cukup besar. Di satu sisi, masyarakat didorong untuk mendaur ulang limbah jelantah demi lingkungan, tetapi di sisi lain mereka tidak memperoleh manfaat ekonomi yang sepadan.

Dari situ, ia mulai memikirkan sistem yang bisa memberikan harga lebih layak bagi masyarakat, bahkan untuk sejumlah kecil minyak jelantah. Ia kemudian terinspirasi dari mesin pengumpul botol plastik dan kaleng aluminium yang sudah lebih dulu digunakan di berbagai negara.

"Kemudian saya berpikir, kita sudah punya mesin pengumpul botol plastik dan kaleng aluminium, kan? Kenapa tidak membuat mesin serupa tapi khusus untuk minyak jelantah?," ungkapnya.

Ia pun kemudian mulai melakukan riset. Hasilnya menunjukan bahwa sekitar 66 persen minyak jelantah di Indonesia berasal dari rumah tangga dan pedagang kecil. Namun, kurang dari 10 persen yang berhasil dikumpulkan secara optimal.

Berangkat dari temuan tersebut, Philippe dan timnya mulai merancang konsep penyetoran minyak jelantah dengan sistem drop-off yang bisa dilakukan dari mana saja. Masyarakat bisa langsung menyetor limbah minyak jelantah mereka meski hanya 1 liter, dan langsung mendapatkan bayaran.

"Akhirnya kami berpikir, bagaimana kalau kita mulai memasang box penampungan? Orang bisa datang, menyetor minyak, dan mendapatkan uang yang lebih baik dibanding menjual ke pengepul biasa," paparnya.

"Kalau setor 1,4 liter, dibayar sesuai 1,4 liter. Tidak ada tawar-menawar, dan sistemnya adil," lanjutnya.

Selain persoalan ekonomi, ia juga menemukan masalah lainnya. Dalam beberapa kasus, minyak jelantah yang telah dikumpulkan dari masyarakat selama ini justru diproses ulang dan kembali dijual sebagai minyak goreng.

Temuan tersebut ia dapatkan saat bekerja sama dengan organisasi masjid di Bali. Dari percakapan dengan seorang marbot, ia mengetahui praktik pencampuran dan pemurnian minyak jelantah yang kemudian kembali beredar di masyarakat.

"Cukup sering minyak jelantah dikumpulkan, lalu disaring, diputihkan, dan dijual kembali sebagai minyak goreng kepada masyarakat, terutama yang kurang mampu. Kalau sampai 25 persen minyak jelantah yang dikumpulkan masuk kembali ke rantai makanan, itu menjadi persoalan. Bukan hanya kesehatan tapi juga kehalalan," ujarnya.

Kondisi itu mendorongnya untuk membangun perusahaan yang memastikan bahwa minyak yang dikumpulkan tidak kembali ke konsumsi, melainkan dimanfaatkan untuk energi yang lebih bersih. Dari sanalah kemudian perusahaan Noovoelum hadir.

Perusahaan miliknya tersebut mula-mula melakukan uji coba operasional kotak penampungan minyak jelantah yang dinamai UCollect Box di Kota Bandung pada 2023. Kotak serupa mesin ATM tersebut merupakan hasil produksi industri di Cimahi, dan bisa menghitung secara otomatis berapa liter minyak yang disetor masyarakat.

Di Car Free Day Jalan Ir.H.Juanda Bandung kala itu, masyarakat pertama kali diperkenalkan dengan sistem penyetoran minyak jelantah berbasis aplikasi yang Noovoelum kembangkan. Masyarakat cukup menumpahkan jelantah ke dalam mesin, lalu uang akan disetor secara langsung ke dalam aplikasi. Untuk 1 liter jelantah, masyarakat akan menerima insentif langsung sebesar Rp5.500.

"Ide awalnya tetap sederhana, bagaimana cara mendistribusikan lebih banyak uang kepada masyarakat. Karena kalau mereka mendapatkan harga yang layak, mereka akan mengubah kebiasaan. Dan ketika kebiasaan berubah, pola pikir juga akan ikut berubah," jelasnya.

Nantinya, minyak jelantah yang dihimpun dari masyarakat tersebut disalurkan ke Pertamina untuk diolah menjadi SAF di fasilitas bio-refinery di Cilacap. Inisiasi awal Philippe untuk mengirim minyak ke Australia pun urung terjadi.

"Proyek itu (di Australia) akhirnya berhenti. Teman saya meyakinkan saya untuk bisa menjalankan bisnis ini sendiri," ungkapnya.

Seiring waktu, antusiasme masyarakat mulai bermunculan. Perusahaannya kini menjadi salah satu pemasok rutin limbah jelantah untuk diolah menjadi bahan bakar pesawat yang ramah lingkungan.

"Pertamina punya fasilitasnya, tapi mereka tidak tahu harus mendapatkan bahan bakunya dari mana. Di situlah kami masuk," kata Philippe.

Meski demikian, ia mengakui bahwa tantangan terbesar bukan pada teknologi atau distribusi, melainkan pada perubahan kebiasaan masyarakat. Sehingga, pendekatan yang paling efektif adalah memberikan nilai ekonomi terlebih dahulu.

Dengan demikian, masyarakat akan terbiasa mengumpulkan minyak jelantah sebelum akhirnya memahami pentingnya daur ulang.

"Orang sudah punya banyak kesibukan setiap hari. Jadi kita harus mengubah pola pikir mereka sekaligus memberi insentif," ujarnya.

Ia mencontohkan, kampanye "Go Green" dan konsep daur ulang memerlukan waktu puluhan tahun untuk dapat terimplementasi di berbagai belahan dunia. Untuk memantik perubahan yang lebih cepat, insentif ekonomi dinilai menjadi hal yang menjanjikan.

"Mereka akan mulai berpikir, kenapa saya harus membuang plastik, kardus, atau minyak jelantah saya, kalau semuanya bisa menghasilkan uang? Yang penting adalah memastikan masyarakat tahu bahwa ada solusi untuk mendapatkan nilai dari sampah mereka," timpalnya.

Kolaborasi dengan Pengepul
Pendekatan kolaboratif juga menjadi strategi yang diusung Noovoleum. Philippe mengatakan bahwa pihaknya tidak berniat menggantikan peran pengepul tradisional, melainkan membuka peluang kerja sama.

Di Bandung, ia mengatakan, sejumlah pengepul mulai bekerja sama karena sistem yang ditawarkan dinilai lebih efisien. Proses penyetoran melalui box hanya membutuhkan waktu beberapa menit, tanpa resiko tawar-menawar harga.

"Awalnya kami harus turun langsung ke lapangan, termasuk ke daerah seperti Dago. Tapi pada akhirnya kami justru bekerja sama dengan mereka," ungkapnya.

"Bayangkan seorang pengepul harus berkeliling mengambil minyak, lalu berkendara 45 menit untuk menjual minyak. Itu pun belum tentu diterima. Sementara dengan box, hanya butuh tiga menit," ujarnya.

Sejauh ini, ia mengaku tidak ada penolakan berarti dari para pengepul. Justru, mulai muncul pengepul yang tertarik bekerja sama karena sistem yang lebih praktis.

"Sejauh yang saya tahu, tidak ada penolakan berarti. Tujuan kami bukan menyingkirkan mereka, tapi berkolaborasi.Saat ini banyak pengepul yang justru bekerja sama dengan kami," jelasnya.

Tak hanya di Kota Bandung, kini UCollect Box milik Noovoleum telah hadir di berbagai kota besar di Indonesia. Mulai dari Palembang, Surabaya, Sidoarjo, Bali, Semarang, Jogjakarta, dan lain-lain. Dalam satu bulan, Noovoleum rata-rata dapat mengumpulkan minyak jelantah hingga 60-70 ton.

"Yang paling penting, kami bisa menjamin bahwa minyak jelantah yang dikumpulkan benar-benar digunakan untuk biofuel atau energi hijau," tandas Philippe.

sc: Detik
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Philippe Micone Bangun Bisnis Minyak Jelantah di Bandung

Trending Now

Iklan