-->
  • Explore

    Copyright © JBN NEWS | Jaringan Berita Nasional
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Romantika Hidup Manusia Silver di Kota Pemalang

    JBN.co.id
    Jumat, 08 Januari 2021, 20:31 WIB Last Updated 2021-01-08T13:31:27Z
     
    Romantika Hidup Manusia Silver di Kota Pemalang

    JBN NEWS ■ Bagi sebagian warga kota Pemalang, sepertinya tidak asing lagi dengan keberadaan manusia silver yang kerap beraksi di beberapa titik lampu merah, atau lampu pengatur lalu lintas.

    Menilik historisnya, manusia silver ini muncul pertama kali di Kota Bandung, Jawa Barat. Pertama kali muncul pada pertengahan tahun 2000, atas kreasi seorang kreografer seni tari yang menggunakan jasanya untuk kepentingan promosi sebuah merk rokok terkenal saat itu.

    Warna silver di pilih, karena tahun 2000 adalah identik dengan tahun milenium, yang saat itu tengah ngetop sebagai icon kota Bandung.

    Dalam kurun waktu 8 bulan, manusia silver tetap menjadi trending dan hampir muncul di perbagai tempat. Selain lampu merah, sarana lain dalam promosi rokok tersebut juga menyasar cafe, taman, dan Tempat Hiburan Rakyat (THR).  

    Sukses aksi manusia silver ini dalam menyedot pengunjung terbilang efektif, itu sebabnya sejumlah pihak memanfaatkan moment tersebut tidak hanya untuk kepentingan  promosi produk rokok.

    Dalam perjalanannya, kehadiran manusia silver juga dimanfaatkan untuk moment pengumpulan dana sosial kemasyarakatan, misalnya bencana alam, gempa, banjir dan tanah longsor. Uniknya, area sekitar lampu merah masih tetap dominan menjadi sasaran utamanya, selain jalan protokol padat lalu lintas.

    Sejalan dengan waktu, manusia silver terus bergulir, namun sudah melenceng dari kemunculan pertamanya, karena saat ini, kehadiran manusia silver lebih banyak digunakan untuk bagian sarana mengamen, juga terlihat disudut lampu-lampu merah berbagai kota. Seperti halnya yang terlihat di Kota Pemalang.

    Mirisnya, mereka datang dari kaum marginal, yang notabene seperti gepeng (gelandangan dan pengemis), pengamen dan anak-anak punk yang memiliki strata sosial dibawah rata-rata.

    Kisah dan romantika hidup kaum marginal ini, terkadang menarik untuk disimak. Andika (samaran, red), misalnya. Pria asal Ciamis Jabar ini baru menginjak 18 tahun.

    Dia berkisah, sudah menjadi  keputusannya untuk menikahi gadis berusia lebih muda asal Semarang Jateng.  Walaupun secara umur masih kekanakan, mau tidak mau keduanya  harus bertanggung jawab guna mencari nafkah demi kelangsungan hidup anak hasil buah cintanya, dengan sang istri.

    Minimnya pendidikan formal yang dimilikinya, mengakibatkan skillnya tidak memadai untuk bersaing berebut pekerjaan saat ini.

    Tak sedikit orang disaat terpojok oleh situasi dalam  menghadapi persoalan hidup, dalam keterpaksaan melakukan pekerjaan yang sebenarnya tidak di sukai.

    Seperti Andika asal Ciamis, terpaksa (maaf) menjadi peminta minta di kota Pemalang, karena terbentur kebutuhan, hingga pada akhirnya menyulap sekujur tubuhnya dengan guyuran warna silver sebagai sarana, bapak masih ABG ini siap action di sejumlah titik traffic light pusat kota pemalang Jateng, untuk mengais rizqi, mengharap keiklasan pengguna jalan yang terhenti akibat giliran lampu pengatur jalan sedang berwarna merah.

    Romantika Hidup Manusia Silver di Kota Pemalang

    Meskipun dalam situasi ekonomi sedang sulit akibat pandemi Corona 19, menurutnya, sampai saat ini penghasilannya masih bisa untuk kontrak rumah dan memenuhi kebutuhan sehari hari termasuk susu. "Alhamdulillah, ada aja," katanya bersyukur.

    Menurutnya, di pilihnya kota iklas sebagai tempat mencari nafkah dikarenakan, selain aman dan nyaman juga berada di titik tengah antara Semarang dan Ciamis.

    Profesi yang sedang di jalani saat ini,  katanya punya resiko tinggi, selain gangguan dari komunitas anak jalan lainya, juga soal lain.

    Tertangkap saat razia ketertiban oleh petugas setempat, juga menjadi momok menakutkan. "Saya hanya bisa ikuti arus dan angin, tidak ada pilihan yang bisa dipilih," tuturnya lirih.

    "Seandainya ada pekerjaan lain, saya tidak menolak, yang penting bisa mencukupi kebutuhan," katanya.  
        
    ■ Himawan
    Your comment

    Tampilkan

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar

    BERITA TERBARU